Baru Enam Bulan, Kasus Perundungan di Kota Kediri Hampir Sentuh 40 Kasus


Ilustrasi bullying. (photo by radar kediri)


KEDIRI, 
 – Kasus perundungan atau bullying di Kota Kediri menunjukkan tren peningkatan. Hingga pertengahan tahun 2026, jumlah kasus yang ditangani sudah hampir menyamai bahkan melampaui catatan sepanjang tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri, dr. Muhammad Fajri Mubasysyir, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun ini pihaknya telah menerima hampir 40 kasus bullying. Padahal, sepanjang tahun 2025 jumlah kasus yang tercatat sekitar 30 kasus.

"Kasus bullying ini meningkat," ujarnya.

Menurut Fajri, sebagian besar kasus terjadi di lingkungan sekolah, baik pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Bentuk perundungan yang dialami korban pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, intimidasi verbal, hingga perundungan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi.

Ia menilai peningkatan kasus tersebut tidak hanya dipengaruhi lingkungan pergaulan, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi keluarga. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah fenomena fatherless, yakni minimnya peran ayah dalam proses pengasuhan dan pendampingan anak.

Menurutnya, sosok ayah memiliki fungsi penting sebagai pelindung sekaligus pemberi rasa aman bagi anak.

"Kalau saya bilang, ayah itu seperti superhero bagi anak. Kehadiran dan perannya membuat anak merasa lebih percaya diri, lebih berani, dan tidak mudah merasa takut," jelasnya.

Sebaliknya, ketika anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari, rasa percaya dirinya dapat menurun sehingga lebih rentan menjadi sasaran perundungan maupun mencari figur pengganti di lingkungan luar.

Fajri menegaskan bahwa istilah fatherless bukan berarti seorang anak tidak memiliki ayah secara fisik. Yang dimaksud adalah hilangnya fungsi kepemimpinan, pendampingan, dan kedekatan emosional seorang ayah dalam keluarga.

Akibatnya, sebagian anak mencari sosok panutan di luar rumah yang belum tentu memberikan pengaruh positif.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kedekatan keluarga. Kebiasaan setiap anggota keluarga yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam membuat komunikasi langsung semakin berkurang.

"Banyak keluarga duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk dengan handphone. Interaksi yang seharusnya terbangun akhirnya berkurang," katanya.

Karena itu, Fajri mengajak para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam pengasuhan anak dan tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada ibu.

"Sudah bukan zamannya semua urusan anak diserahkan kepada ibu. Ayah juga harus hadir dan berperan karena memiliki fungsi yang berbeda, terutama sebagai pelindung dan pemberi rasa aman," tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menekankan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter seorang anak. Di dalam keluarga, anak belajar mengenal nilai-nilai kehidupan, mulai dari sopan santun, kedisiplinan, hingga cara menghargai orang lain.

Menurut Vinanda, yang dibutuhkan anak bukan sekadar kehadiran ayah secara fisik, tetapi keterlibatan nyata dalam setiap proses tumbuh kembang mereka.

"Anak-anak tidak hanya membutuhkan ayah yang hadir secara fisik, tetapi ayah yang benar-benar hadir dalam kehidupan mereka," tandasnya.

Pemerintah Kota Kediri berharap penguatan peran keluarga, khususnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan angka perundungan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.(red/lis)

0 Komentar